REVIEW SABUKU : Masih Belajar ‘Menggapai Hidup Bermakna di Usia Muda’

Reviewer : Prima Rifqi Ivadimi (Tim Kesejahteraan Anggota)


Deskripsi Buku
Judul: Masih Belajar ‘Menggapai Hidup Bermakna di Usia Muda’
Nama Pengarang: Iman Usman
Diterbitkan pada: 2019 (Cetakan Kedua Juli 2019)
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis
Dalam hidup, pernahkah kamu punya tujuan? Cita-cita atau hal yang selalu ingin dan sukai untuk lakukan?  Atau misalnya target-target yang ingin dicapai dari waktu ke waktu? Itulah yang Iman Usman ceritakan dalam buku debutnya sebagai penulis ini. Terdiri dari dua chapter besar dan diawali dengan perkenalan tentang siapa Iman Usman ini, dilanjutkan dengan chapter satu yang membahas secara garis besar kisah hidup penulis sejak masih berada di bangku sekolah dasar hingga saat ini. Dilanjutkan chapter dua dengan perumpaan sebuah pohon yang memiliki akar, batang dan buah yang di dalamnya membahas berbagai hal spesifik seperti tips seputar pendidikan, organisasi dan karir disertai dengan technical practic bagi pembaca.


Berisi tentang kisah perjalanan hidup Iman Usman (CEO dan Co-Founder RUANGGURU) dari masa kecil hingga berbagai prestasi dan kontribusi yang diberikannya. Buku ini seperti diary-nya tentang segala hal yang dilalui penulis hingga sampai pada titik tempat ia berdiri saat ini. Banyak dari kita mungkin sudah tidak asing dengan Ruangguru, iklannya ada di berbagai media bahkan mungkin keluarga atau kita sendiri pernah menggunakan Ruangguru sebagai media belajar. Tapi mungkin sebagian besar belum tahu siapa saja orang-orang hebat dibalik media belajar online tersebut. Salah satunya ialah Iman Usman dan persistensi yang sudah ia rawat sejak masih berada di bangku sekolah dasar. Ia menceritakan tentang berbagai hal praktikal dan motivasi yang diperlukan untuk berkontribusi memberikan manfaat dan menjadi bahagia sejak usia muda. 

Kelebihan Buku
Terdapat tiga poin besar yang saya sukai dari buku ini, yang pertama adalah penggunaan bahasa tidak baku dengan selingan Bahasa Inggris sehingga selain mudah dipahami atau ‘sangat anak muda banget’, buku ini juga akan menambah wawasan pembaca tentang kosakata dalam Bahasa Inggris. Poin kedua, terdapat highlight tentang isi buku secara spesifik untuk topik-topik tertentu di halaman akhir, sehingga ketika pembaca tidak memiliki banyak waktu luang ia bisa lebih mudah memilih topik tertentu yang ingin dibaca tanpa harus menyelesaikan membaca keseluruhan isi buku untuk mengetahui substansinya. Yang ketiga, buku ini dilengkapi dengan technical practic yang dapat dicoba aplikasikan oleh pembaca, sehingga pembaca juga bisa menggunakan tips yang diberikan oleh penulis dengan visualisasi yang sama (seperti contohnya ada satu tips tentang ‘alasan untuk hidup’ yang digambarkan melalui beberapa lingkaran yang saling beririsan, di halaman selanjutnya penulis memberikan tempat bagi pembaca untuk mencobanya sendiri sehingga buku ini tidak hanya selesai setelah dibaca.

Kekurangan Buku
Bukunya terpisahkan dalam topik-topik tertentu, meskipun ini juga merupakan kelebihan bagi pembaca yang tidak memiliki banyak waktu luang tetapi disaat bersamaan menyebabkan substansi buku seperti terpisah satu sama lain dan membuat cerita seperti kurang mengalir menjadi satu kesatuan. Namun ini bukan menjadi masalah besar yang mengganggu karena ketika membaca keseluruhan isi buku akan dapat dilihat benang merah yang saling menghubungkan berbagai topik.

Mengapa buku ini direkomendasikan?
Jika kamu merasa sedang stagnan dan kehilangan semangat untuk mewujudkan llife-goals, atau ketika kamu berada dalam fase tidak tahu harus mengambil langkah apa dalam hidup buku ini bisa menjadi batu loncatan untuk menata kembali semangat dan harapan tentang masa depan. Bagi pembaca yang menyukai genre self-improvement buku ini bisa jadi alternatif bacaan yang perlu masuk ke dalam wishlist. 

Rating 1-5, berapa dan mengapa?
Buku ini saya beri rating 4,5 dari 5 karena tiga alasan utama. Pertama adalah kisahnya yang relevan dengan kehidupan anak muda dengan berbagai permasalahan dan kegamangan hidup saat ini, sehingga lebih mudah untuk merasakan bahwa buku ini ‘gue banget’ dari cerita tentang lingkungan sosial, pendidikan, karir hingga idealisme. Kedua, penggunaan bahasa non-baku sehingga seperti mendengar ‘curhatan teman’ dan bukan hanya membaca buku teks. Ketiga, secara visual buku ini menarik karena disertaii dengan ilustrasi dan teknikal praktik yang akan menyapa mata pembaca dengan tidak berlebihan.


Buku ini cocok banget buat yang suka dengan pengembangan diri dan penuh dengan idealisme anak muda disertai penggunakan bahasa yang bisa jadi ‘kamu banget’.

Jadi, sudah baca buku apa kamu hari ini?


Review Buku ini juga kami buat dalam bentuk video. Cek videonya dengan follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:
REVIEW SABUKU : Filosofi Teras

Reviewer : Sisi Saqila (Tim Public Relation)


Deskripsi Buku
Judul: Filosofi Teras
Nama Pengarang: Henry Manampiring
Diterbitkan pada: Januari 2019
Penerbit: Buku Kompas

Sinopsis
Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan generasi milenial dan Gen-Z masa kini. Terdapat 12 poin seperti yang tercantum dalam judul, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.      Survei Khawatir Nasional
2.      Sebuah Filosofi yang Realistis
3.      Hidup Selaras dengan Alam
4.      Dikotomi Kendali
5.      Mengendalikan Interpretasi dan Persepsi
6.      Memperkuat Mental
7.      Hidup diantara Orang yang Menyebalkan
8.      Menghadapi Kesusahan dan Musibah
9.      Menjadi Orang Tua
10.  Citizen of the World
11.  Tentang Kematian
12.  Mempraktikkan Filosofi Teras

Pada buku setebal 320 halaman ini, setiap halaman menjelaskan secara detail setiap poin di atas dan terdapat beberapa contohnya. Selain itu, pada setiap akhir bab, selalu ada intisari dari bab tersebut. Sehingga pembaca bisa mereview kembali isi dari bab tersebut.

Kelebihan Buku
Buku ini ditulis sesuai dengan data yang sudah disurvey sedemikian rupa. Terdapat bagian dari buku ini yang merupakan hasil wawancara dari beberapa profesi maupun orang yang sudah mempraktikkan Filosofi Teras. Sehingga pembaca bisa mengetahui pendapat dari sudut pandang profesi yang berkaitan dan bisa mengetahui pengalaman dari orang yang sudah mempraktikkan Filosofi Teras ini. Selain itu, buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang tidak terlalu berat sehingga pembaca bisa mengerti maksud buku ini dengan mudah. Juga, terdapat beberapa gambar yang diilustrasikan oleh Levina Lesmana sehingga pembaca tidak merasa bosan dengan tulisan.

Kekurangan Buku
Terdapat beberapa bagian yang diulang ulang. Misalnya tentang materi dikotomi kendali dan trikotomi kendali. Pasti materi tersebut dibahas pada setiap bab. Padahal sudah dibahas di bab satu. Juga menurut saya, harga yang kurang terjangkau yakni 98.000 untuk di Pulau Jawa.

Mengapa Memilih buku ini + Kenapa harus dibaca banyak orang?
Karena buku ini sempat menduduki top 10 di Gramedia pada bulan Maret 2019. Sehingga saya tertarik untuk membaca sinopsisnya. Dan menurut saya, banyak orang harus membaca buku ini karena buku ini memberi cara latihan mental supaya kita memiliki syaraf titanium dan tidak mudah tersambar galau. Juga mengajarkan kita supaya tidak sering merasa khawatir akan banyak hal, tidak mudah ‘baperan’, cepat move on, tidak mudah tersinggung, dan marah-marah di social media maupun dunia nyata.

Rating 1-5, berapa dan mengapa?
Buku ini saya beri rating 4,5 karena isi dari buku ini sangat bermanfaat untuk diterapkan dikehidupan zaman sekarang. Buku ini mengajarkan pembacanya untuk bisa mengantur emosi dengan baik. Isi dari buku ini juga sangat berkaitan dengan kehidupan sehari hari. Saya sangat merekomendasikan buku ini (misalnya) karena saya rasa zaman sekarang banyak orang yang mudah marah, apalagi di jalanan ketika sedang macet atau di instagram ketika sedang berselisih paham dengan teman sendiri. Nah, ini salah satu alasan mengapa saya mengatakan buku ini sangat relatable dengan kehidupan sehari hari.



Review Buku ini juga kami buat dalam bentuk video. Cek videonya dengan follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:
IQRO’ CULTURE
Iqro’ adalah sebuah kata yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad pertama kali di gua hiro. Iqro’ memiliki makna “bacalah” atau read dalam bahasa inggris. Nabi Muhammad yang Ummi (tidak bisa membaca dan menulis) sejak kecil diperintahkan untuk membaca sebuah kata yang belum pernah Beliau ketauhi dan pada akhirnya Beliau bisa membaca dan menghafal 5 ayat yang diwahyukan padaNya kala itu. Hal seperti ini kita dapatkan ketika kita masih kecil mungki waktu masih TK. Ketika kita masih belia kita diajarkan huruf demi huruf yang kemudian kita bisa membaca sebuah kata lalu sebuah kalimat. Anak-anak di negara lainpun juga seperti itu, mereka diajarkan hal yang sama persis seperti kita di Indonesia tapi sesuai dengan bahasa pada tiap negara masing-masing. Tiap negara memiliki caranya tersendiri untuk mengajarkan anak-anak nya pandai dalam membaca dan gemar membaca. Tahun 2017 sebuah lembaga di dunia mensurvei dari 61 negara yang ada di dunia dan alangkah terkejutnya bahwa Indonseia berada pada posisi ke-60. Memang kenapa harus ada survei mengenai hal ini? kalau kita lihat negara Inggris, Jepang, US, dll menduduki peringkat atas. Mereka menjadi negara maju karena masyarakatnya yang gemar membaca dari hal sepele sampai hal yang rumit. Ada beberapa alasan mengapa membaca itu sangat penting.
Apa hal yang mendasari membaca itu penting? Saya mulai dari sebuah kalimat “Muliakan lah Alquran maka kau akan dimuliakan Alquran” jika kita implementasikan dengan membaca maka kita akan mendapatkan sebuah kesimpulan “Jika kita rajin atau suka membaca maka dunia akan terasa dekat”. Dari membaca itulah ilmu-ilmu yang belum pernah kita ketauhi akhirnya kita menjadi tau, maaf ya sebenernya kita ini bodoh karena masih banyak ilmu yang belum kita ketahui tapi banyak diantara kita yang sok tau segalanya. Karena dunia ini hanya sementara maka mari kita syukuri sisa hidup kita dengan banyak-banyak membaca. Membaca tidak hanya sekedar membaca buku melaikan juga bisa membaca sebuah situasi, membaca semacam ekspresi seseorang atau membaca perasaan orang lain. Taukah kita bahwa membaca hanyalah sebuah simbol dari suatu konsep yang sudah ada sejak dulu. Seperti yang saya tulis barusan, membaca bukan hanya membaca buku karena setiap orang memiliki pandangan masing masing untuk mendeskripiskan arti dari kata membaca. Membaca situasi pada saat kita susah, senang, tertekan, kaya, miskin, memiliki pangkat ataupun tidak memiliki kedudukan maka patutlah kita selalu bersyukur dari semua nikmat yang Tuhan berikan kepada kita.
Ataupun membaca perasaan orang lain ketika kita merasa benci, jatuh cinta, bahagia, sedih, kecewa, dll kepada seseorang maka ingatlah mereka juga sama seperti kita yang selalu berbuat salah maka bencilah sifatnya tapi jangan membenci orang nya. Dapat disimpulkan bahwa saat kita sedang membaca maka kita juga harus paham tentang apa yang kita baca agar ilmu yang tersirat melalui tulisan atau suatu keadaan itu bisa bermanfaat bagi diri kita.
Kegemaran membaca akan muncul jika itu sudah menjadi kebiasaan atau menjadi budaya dikalangan masyarakat sendiri. Seperti yang Allah katakana “Aku akan merubah suatu kaum jika mereka sudah merubah diri mereka sendiri terlebih dahulu”. Hal-hal yang harus kita lakukan adalah mencontohkan lalu mengajak dan membaca bersama. Sebetulnya sepele tapi ketika melakukannya akan terasa berat tapi itulah sebuah proses yang harus kita lakukan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri kita masing-masing. Misalnya setiap pagi ketika dikostan, dikontrakan atau dirumah kita selalu membaca Alquran entah itu 1 juz atau hanya setengan juz lalu tanpa sadar orang terdekat kita ada yang melihat, seenggak nya kita ajaklah dulu mau enggak mau itu urusan belakang yang penting kita ada niatan baik untuk mendapat berkah dipagi hari. Sekiranya dia mau ya Alhamdulillah, kita sudah berdakwah secara tidak sengaja kepada orang disekitar kita. Jangan lupa untuk selalu menemani dan mengingatkan saudara atau saudari kita untuk selalu istiqomah dalam hal kebaikan. Contoh lainya, Saya punya saudara dari Manado dia diajarkan di sekolahnya setiap pagi untuk membaca buku, entah buku Bahasa Indonesia, Bahasa inggris, dll. Bukunya bisa berupa majalah, motivasi ataupun pengetauhan. Melalui budaya inilah tingkat kegemaran membaca akan muncul dengan sendirinya karena orang-orang disekitar kita sudah memahami arti penting dari membaca. Sayangnya di Indonesia terdapat kendala ekonomi bagi sebagian orang untuk melakukan kebiasaan ini. Karena ekonomi yang kurang berkecukupan akhirnya banyak yang tidak memiliki buku utuk dibaca setiap harinya. Faktor buku yang mahal membuat kita belum mampu mendapatkan buku-buku yang kita inginkan. Keterbatasan akan ekonomi inilah yang akhirnya anak-anak kita, adik-adik kita, bahkan kita sendiri yang ingin belajar lebih dari karya orang lain jadi terhalang. Ada salah satu solusi untuk terus membaca setiap harinya yakni kita bertukar buku dengan orang-orang disekitar kita. Dengan begini selain kita punya akses untuk mempelajari hal-hal baru kita juga bisa belajar untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik dengan orang lain. Bisa juga kita pergi untuk keperpustakaan yang ada atau ke suatu komunitas untuk meminjam buku yang ada disana.

Mari jadikan budaya membaca ini menjadi sarana bagi kita semua untuk menjadi orang yang memiliki wawasan luas dan memiliki budi pekerti yang baik. Tiket menuju dunia adalah impian maka kejarlah impianmu setinggi langit dan sedalam lautan. Jadikanlah dirimu insan yang mulia dengan merubah orang lain menjadi lebih baik dalam akhlaknya dan adabnya Banyak orang yang gagal di dunia karena impiannya tidak tercapai salah satu faktornya adalah kurangnya wasawasan yang dimiliki dan banyak mengkritik orang lain tapi lupa dengan dirinya sendiri.. Yang lalu sudahlah berlalu It’s never to late, mistakes are the greatest teacher in life. What My past has taught me, It’s not too late to start all over, and I hope you will change to be better, not to be worst.


Penuis : Ahmed syarief Marzuki (Tim Donasi dan Partnership) https://www.instagram.com/ahsyam313/







Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:
SAMPAH PLASTIK, RACUN YANG SERING TERABAIKAN


Sumber: dtpeduli.org

Sampah merupakan permasalahan yang tidak lepas dari kehidupan kita sehari- hari. Bayangkan saja, berapa banyak sampah yang dihasilkan dari satu rumah tangga? Itu pun belum dikalikan dengan jumlah keseluruhan manusia di seluruh dunia. Banyak dari kita yang masih mengabaikan permasalahan sampah, karena kurangnya tingkat kepedulian kita terhadap lingkungan sekitar. Banyak jenis- jenis sampah yang kita ketahui, salah satunya adalah sampah plastik. Sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah yang sering kita jumpai. Perlu diketahui, sampah jenis ini berbeda dengan jenis sampah yang lainnya.
Pasalnya, sampah plastik memerlukan waktu penguraian yang sangat lama dibanding dengan yang lain. Butuh waktu dua puluh tahun sampai seribu tahun agar sampah plastik dapat terurai sempurna. Menurut grup penelitian Jambeck (2015), hasil riset membuktikan Indonesia menduduki peringkat kedua penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar di dunia yaitu sebanyak 3,22 juta metric ton per tahun. Menurut hasil penelitian, sebanyak 8 juta metric ton sampah plastik berakhir ke lautan setiap tahun.
Kurangnya dalam hal pengelolaan, banyak sampah plastik yang berakhir ke lautan. Apabila hal ini terus terjadi, akan berdampak pada keselamatan biota laut. Berdasarkan penelitian dari United Nations Convention On Biological Diversity yang dikutip DBS, sampah di lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies pada tahun 2016.
Sampah plastik yang berubah menjadi partikel-partikel kecil (microplastic) tidak hanya berdampak buruk pada biota laut saja, namun manusia juga terkena imbasnya. Ikan laut akan menyerap racun dari microplastic yang telah ditelannya kemudian berpindah ke tubuh manusia yang memakan ikan laut tersebut.
Mengetahui beberapa dampak yang disebabkan oleh sampah plastik, sudah seharusnya kita semakin bijak dalam penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Berikut tips mengurangi sampah plastik dilansir dari Tempo.co,
Pertama, mengurangi penggunaan pembungkus plastik makanan dengan membawa tempat makanan sendiri serta membawa tas belanja sendiri di pasar maupun di supermarket.
Kedua, menggunakan toples kaca untuk tempat sisa makanan atau snack dan gelas kaca atau keramik. Hindari penggunaan gelas plastik,
Ketiga, menggunakan tempat makanan dan botol minum yang dapat digunakan kembali.
Keempat, kurangi menggunakan peralatan makan maupun minum yang sekali pakai seperti sendok, garpu, dan sedotan plastik.
Kelima, kurangi takeaway dan perbanyak makan di tempat.
Banyak alternatif yang dapat kita pilih untuk mengurangi sampah plastik.  Apalagi sekarang banyak sekali aksi pengurangan sampah plastik, salah satunya adanya gelas yang terbuat dari rumput laut yang bisa dimakan dan sedotan stainless. Lebih bijak dalam menggunakan plastik dan peduli dengan lingkungan merupakan salah satu kontribusi kita dalam mengurangi sampah. Karena satu sampah yang kita buang akan berdampak pada bumi kita.

Penulis: Bebi Linda Prastika (Tim Media dan Desain Grafis) https://www.instagram.com/bebilindaprastika







Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:
NGABUBURIT BARENG:  SOLIDARITAS ANAK JALANAN LAMONGAN


     
     Sebagai makhluk yang tidak bisa lepas dari sesama, yang tentunya memerlukan pertolongan dan sebaliknya, setiap manusia seharusnya memiliki rasa solidaritas. Kepedulian sosial sudah semestinya terkandung dalam diri karena kodratnya menjadi makhluk dari asal ciptaan yang sama. Tapi, banyak orang yang hilang kesadaran, lebih mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, menutup mata membiarkan sesama dalam keadaan yang memprihatinkan.
    Dalam kehidupan nyata di masyarakat, tidak semuanya beruntung bisa mencukupi kebutuhan. Jangankan membeli makanan enak, memakai baju bagus, rekreasi ke tempat wisata dan lain-lain, sekadar mengisi perut saja harus mendapatkan dengan susah payah. Dari hal tersebut, seharusnya muncul orang-orang yang tergolong dalam kelas “mampu” dengan membawa kesadaran kemanusiaan untuk membaur duduk bersama dan mengulurkan tangan membantu ketidakcukupan mereka. Namun, pada kenyataannya banyak orang yang apatis yang nyaman dengan dirinya sendiri. Tidak peduli terhadap lingkugan sekitar, acuh tak acuh dengan kondisi orang lain dan lebih suka memperkaya diri sendiri.
     Hal ini justru disadari oleh para anak jalanan-kelas manusia yang bisa dibilang dalam kategori strata rendah-yang biasanya hanya dipandang sebelah mata. Kelompok yang dianggap sebagai “sampah masyarakat” ini ternyata mempunyai kepedulian sosial yang tinggi. Meskipun kerap terlihat berpenampilan dan berperilaku tidak pantas oleh kebanyakan orang, malah memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap lingkungan sekitar. Rasa kemanusiaan mereka mengalahkan orang-orang yang notabenenya memiliki status sosial yang baik. Hal ini seperti gerakan yang dibentuk oleh anak jalanan Lamongan.
     Senin (03/06) sore masih dalam suasana bulan Ramadan, di samping Plaza Lamongan, anak jalanan Lamongan mengadakan acara “Ngabuburit Bareng” yang berisi beberapa kegiatan sosial, antara lain: Pasar Gratis, Food Not Bomb, Perpustakaan Jalanan dan lain-lain. Gerakan anak jalanan di Lamongan ini menyebut dirinya dengan nama “Kucing  Hitam”. Selain atas nama kepedulian sosial, kegiatan ini juga mengkritik keadaan sosial yang terjadi di masyarakat saat ini. Kegiatan “Ngabuburit Bareng” ini mempunyai slogan “Sebab hidup bukan hanya kepentingan ekonomi, menjual dan membeli, untung dan rugi. Berbagi cinta dan saling memberi adalah sebuah kebahagiaan.”.


Apa yang melatarbelakangi adanya gerakan ini?
     “Mulanya kami melihat kondisi nyata di masyarakat yang kami rasa memprihatinkan. Banyak orang yang susah payah mencari makan, bahkan mereka tidak mempunyai tempat tinggal. Tapi, di lain keadaan banyak yang berfoya-foya menghamburkan harta untuk kepuasan diri sendiri dan bergaya berlebih-lebihan. Budaya konsumtif di masyarakat semakin parah. Padahal kondisi orang-orang pinggiran yang susah mendapat sesuap nasi tidak kalah banyaknya.”, Ucap pria yang akrab dipanggil Kiplek yang juga merupakan penggerak kegiatan ini.
     Saat ini, fenomena budaya konsumtif di masyarakat memang sangat parah. Tapi pelakunya tidak sadar dengan hal tersebut. Mereka merasa hanya mencukupi kebutuhan. Padahal antara kebutuhan dan keinginan itu merupakan dua hal yang berbeda. Kebutuhan adalah segala sesuatu (berbentuk barang dan jasa) yang diperlukan manusia untuk meneruskan hidup. Sedangkan, keinginan merupakan kebutuhan lebih di luar kebutuhan pokok manusia yang bersifat untuk memuaskan diri. Kiplek juga menuturkan bahwa sekarang semakin banyak orang yang kehilangan kesadaran, berlomba bermewah-mewahan dan tidak mau tahu bahwa sebenarnya lingkungan di sekitarnya masih banyak orang yang tidak bisa makan. Dari kenyataan tersebut, Kiplek bersama teman-temannya membuat gerakan peduli sosial sembari mengkritisi kondisi masyarakat kelas atas yang banyak memilih menutup mata.
     Lalu, darimana barang-barang dalam kegiatan ini didapatkan?
     “Dalam acara ini, kami memiliki beberapa macam bentuk kegiatan sosial, antara lain: Pasar Gratis, Food Not Bomb dan Perpustakaan Jalanan. Barang-barang kami dapatkan dari teman-teman yang berpartisipasi dalam acara ini, kepunyaan individu maupun kolektif. Kami juga bekerjasama dengan komunitas lain yang sama-sama memiliki kepedulian terhadap masyarakat, Perpustakaan Jalanan contohnya. Buku-buku ada untuk bisa dibaca masyarakat umum secara gratis ini atas kerjasama dengan mereka.”, ungkap Kiplek sambil menunjuk barang dan orang-orang seperjuangannya itu. “Pasar Gratis sendiri maksudnya adalah sebuah gerakan sederhana dimana kita bisa saling berbagi barang maupun jasa dengan orang-orang yang kurang beruntung secara gratis. Pasar Gratis ini atas dasar solidaritas, bukan mencari keuntungan. Karena kami sadar, tidak semua mempunyai uang untuk membeli berbagai kebutuhan hidup akibat kekayaan alam yang harusnya untuk kesejahteraan masyarakat, malah habis dikuasai oleh korporasi yang rakus.”. Kiplek menghela napas, kemudian menjelaskan lagi. “Sedangkan Food Not Bomb itu berarti makanan gratis. Istilah tersebut kami ambil dari slogan sekumpulan aktivis yang menentang perang dan proyek nuklir. Istilah ini berdasar pada pemikiran bahwa yang dibutuhkan manusia adalah kehidupan (food= makanan), bukan kematian (bomb= bom/senjata). Food Not Bomb bisa dilakukan siapa saja, dimana saja dan kapan saja oleh semua orang yang sadar bahwa makanan adalah hak semua manusia, bukan hak  istimewa untuk para elit saja.”.
     Menyangkut nama acara ini, apakah kegiatan ini hanya dilakukan pada bulan Ramadan saja?
     “Acara seperti ini sudah beberapa kali kami lakukan. Bukan hanya pada waktu bulan puasa saja. Sebelumnya di luar bulan puasa kami sudah mengadakan kegiatan seperti ini di beberapa tempat di daerah Lamongan dan sekitarnya. Ya seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Kegiatan seperti ini kami adakan dengan kerjasama bersama komunitas lain yang mempunyai kepedulian sosial, dengan dasar seduluran, gotong-royong dan solidaritas.”, jawab Kiplek. Kegiatan peduli sosial ini sudah beberapa kali Kiplek dan teman-temannya lakukan di tempat berbeda di daerah Lamongan dan sekitarnya. Kiplek menyebutkan beberapa tempat yang pernah dibuat pelaksanaan acara ini, antara lain Paciran dan Sidayu. Dia juga membuka dan mengajak secara terbuka siapapun yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini. Siapapun mereka bisa membantu dalam bentuk barang-barang, makanan, jasa, ide ataupun tenaga. Atau bisa juga membuat sendiri kegiatan seperti Pasar Gratis dan Food Not Bomb ini di daerah masing-masing.
     Dan di akhir perbincangan kami, Kiplek dan mewakili semua orang dalam gerakan ini berpesan, “Sekecil apapun hal positif yang kita lakukan, itu jauh lebih baik daripada tidak melakukan apapun. Percayalah! Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Mari kita bersama-sama melakukan langkah kecil menuju perubahan hidup yang nyata dan merata, untuk dunia yang lebih baik, dimana setiap orang saling peduli terhadap sesama dan saling berbagi kasih sayang.”.

Penulis : Abid Muhibbudin (Tim Media dan Desain Grafis)











Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:
KANTIN DENGAN SEGALA MACAM TAHU TELOR


Kantin merupakan suatu tempat dimana orang-orang dapat bercengkrama, bertukar pikiran, berkeluh kesah, makan ringan hingga makan mubang. Dalam suatu waktu orang dapat mempergunakan waktunya ditempat ini dalam waktu yang cukup lama bahkan bisa sampai seharian. Tempat ini juga merupakan tempat pelarian siswa yang hendak bolos pelajaran bahkan UKS bukan lagi menjadi prioritas untuk jadi bahan pelarian. Begitu juga dengan rumah karena tidak tahu mengapa mie instan yang beli di kantin rasanya jauh lebih enak daripada rebus mie sendiri dirumah. Hal semacam itu masih menjadi sebuah misteri.
Kantin dengan segala kerinduannya memiliki kenangan yang cukup membuat otak ini susah untuk melupakannya. Tidak hanya karena tempatnya yang strategis dalam sebuah pelarian akan gtetapi juga memiliki keanekaragaman suku, ras dan budaya pada jenis makanan yang dijual. Itulah penyebab dari nafsu manusia yang susah dikendalikan sehingga dengan kapasitas perutnya yang hanya cukup dengan 3 porsi makanan manusia lebih condong untuk membeli semua jenis makanan yang ada di tempat ini. Tentunya sifat rakus ini sangat tidak terpuji meskipun tempat dijualnya makanan tidak selalu merupakan tempat yang terpuji.
Berbagai macam jenis kantin terdapat banyak sekali kualitas dari suatu penilaian manusia. Pastinya dari segi keindahan, kerindangan, keamanan, kesehatan, kenangan dan yang paling penting adalah kebersihan. Kebersihan merupakan pokok dari semua unsur yang harus ada di setiap tempat ini. Contohnya pada kantin FMIPA Universitas Negeri Malang pada kasus bumbu tahu telor yang membanjiri di sudut kantin. Tidak kah ada rasa peduli terhadap lingkungan dengan tidak meninggalkan ataupun sengaja menumpahi bumbu yang sangat enak tersebut dengan berbagai rasa yang ada yaitu ada rasa manis, asin bahkan hambar. Apapun rasanya pada dasarnya tetap namanya bumbu tahu telor. Hal ini sangat disayangkan karena dapat berdampak pada pengunjung yang lainnya meskipun pengunjung yang lainnya tidak membeli tahu telor.
Dari tulisan diatas dapat disimpulkan bahwa kebersihan sebuah tempat makan khususnya pada kantin mempengaruhi kualitas makanan dan kuantitas pengunjung meskipun hanya berupa bumbu tahu telor yang rasanya tidak diragukan lagi. Semua itu tergantung pada mahluk hidup terutama manusia karena tidak mungkin lingkungan kotor diakibatkan oleh benda mati meskipun itu hanya berupa bumbu tahu telor. Semua bisa karena terbiasa. Namun yang terbiasa belum tentu bisa membuat bahagia. Semua yang baik belum tentu rela meninggalkan tetapi yang meninggalkan (sampah) pasti suasana hatinya sedang tidak baik. Apapun itu jangan lupa untuk selalu berusaha memperbaiki diri. Karena kita tidak tahu jodoh atau ajal yang akan membujuk kita untuk menjadi bagian dari salah satu diantara keduanya.



Penulis: Firaz Apriyanto (Tim Kesejahteraan Anggota) https://www.instagram.com/firaz.apr











Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:


GAIA ATAUKAH ADEFAGIA ?


Banyak orang mengatakan bahwa kita makhluk yang sempurna dimuka bumi, makhluk yang berakal dan dipercaya bisa mengatur serta menata dunia ini menjadi lebih baik. Kenyataannya bahwa kita makhluk yang berperan penting dalam menghasilkan limbah yang mampu merusak ekosistem. Masih relevankah predikat tersebut melekat dengan kita ?
Pernah ditemukan bangkai paus terapung serta beberapa biota laut yang ‘tersakiti’ dalam hidupnya karena polimer sintetik tersebut. Negara kitapun menjadi runner up akan kemalangan yang sedang terjadi itu. Kesan seolah olah negara paru paru dunia serta terkenal akan keanekaragaman ini mulai tercoreng tanpa adanya kepedulian akan lingkungan sekitar. Seolah olah manusia tidak memiliki tanggungjawab akan menjaga lingkungan, terdapat juga ungkapan ungkapan menarik di dalam masyarakat.
“lho itu kan tugasnya pegawai kebersihan, kalau dia tidak kerja berarti dia makan gaji buta dong ?” beberapa ungkapan di sosial media. Masih banyak orang memandang bahwa kebersihan sebatas pekerjaan  ini itu. Tidak memandangnya sebuah lingkungan terlihat menarik jika terdapat kebersihan dan keindahan didalamnya.
“aku lho cuma buang sampah sekecil itu” salah satu ungkapan klasik kata orang. Kenyataannya ada pepatah ‘sedikit dikit menjadi bukit’. Banyak orang berpikir bahwa kontribusi kecil seperti itu tidak memiliki dampak, tapi kenyataannya jika itu dilakukan banyak orang maka memiliki pengaruh sangat besar.
“tidak tahu mas, biasa orang orang juga buang disitu” beberapa jawaban yang didapat ketika bertanya alasan kenapa buang sampah pada tempat yang kurang ‘tepat’. Terdapat penjelasan mengenai hal ini yang disebut konformitas. Singkat ceritanya bahwa kita melakukan sesuatu karena mayoritas melakukan hal tersebut maka tindakan itu dianggap menjadi benar.  
Mengakhiri celotehan ini bahwa apa yang kita lakukan sekecil apapun terhadap lingkungan akan berdampak di kemudian hari dan tingkah laku kita tanpa sadar mungkin akan di ikuti orang lain. Maka dari itu marilah kita berpikir sejenak, Kalau tidak dimulai dari kita sendiri, dari siapa lagi ?


Penulis : Rival Maulana Faturahman (Tim Kesejahteraan Anggota)











Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:


Previous PostPostingan Lama Beranda