NGABUBURIT BARENG:  SOLIDARITAS ANAK JALANAN LAMONGAN


Sebagai makhluk yang tidak bisa lepas dari sesama, yang tentunya memerlukan pertolongan dan sebaliknya, setiap manusia seharusnya memiliki rasa solidaritas. Kepedulian sosial sudah semestinya terkandung dalam diri karena kodratnya menjadi makhluk dari asal ciptaan yang sama. Tapi, banyak orang yang hilang kesadaran, lebih mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar, menutup mata membiarkan sesama dalam keadaan yang memprihatinkan.
     Dalam kehidupan nyata di masyarakat, tidak semuanya beruntung bisa mencukupi kebutuhan. Jangankan membeli makanan enak, memakai baju bagus, rekreasi ke tempat wisata dan lain-lain, sekadar mengisi perut saja harus mendapatkan dengan susah payah. Dari hal tersebut, seharusnya muncul orang-orang yang tergolong dalam kelas “mampu” dengan membawa kesadaran kemanusiaan untuk membaur duduk bersama dan mengulurkan tangan membantu ketidakcukupan mereka. Namun, pada kenyataannya banyak orang yang apatis yang nyaman dengan dirinya sendiri. Tidak peduli terhadap lingkugan sekitar, acuh tak acuh dengan kondisi orang lain dan lebih suka memperkaya diri sendiri.
     Hal ini justru disadari oleh para anak jalanan-kelas manusia yang bisa dibilang dalam kategori strata rendah-yang biasanya hanya dipandang sebelah mata. Kelompok yang dianggap sebagai “sampah masyarakat” ini ternyata mempunyai kepedulian sosial yang tinggi. Meskipun kerap terlihat berpenampilan dan berperilaku tidak pantas oleh kebanyakan orang, malah memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap lingkungan sekitar. Rasa kemanusiaan mereka mengalahkan orang-orang yang notabenenya memiliki status sosial yang baik. Hal ini seperti gerakan yang dibentuk oleh anak jalanan Lamongan.
     Senin (03/06) sore masih dalam suasana bulan Ramadan, di samping Plaza Lamongan, anak jalanan Lamongan mengadakan acara “Ngabuburit Bareng” yang berisi beberapa kegiatan sosial, antara lain: Pasar Gratis, Food Not Bomb, Perpustakaan Jalanan dan lain-lain. Gerakan anak jalanan di Lamongan ini menyebut dirinya dengan nama “Kucing  Hitam”. Selain atas nama kepedulian sosial, kegiatan ini juga mengkritik keadaan sosial yang terjadi di masyarakat saat ini. Kegiatan “Ngabuburit Bareng” ini mempunyai slogan “Sebab hidup bukan hanya kepentingan ekonomi, menjual dan membeli, untung dan rugi. Berbagi cinta dan saling memberi adalah sebuah kebahagiaan.”.


Apa yang melatarbelakangi adanya gerakan ini?
     “Mulanya kami melihat kondisi nyata di masyarakat yang kami rasa memprihatinkan. Banyak orang yang susah payah mencari makan, bahkan mereka tidak mempunyai tempat tinggal. Tapi, di lain keadaan banyak yang berfoya-foya menghamburkan harta untuk kepuasan diri sendiri dan bergaya berlebih-lebihan. Budaya konsumtif di masyarakat semakin parah. Padahal kondisi orang-orang pinggiran yang susah mendapat sesuap nasi tidak kalah banyaknya.”, Ucap pria yang akrab dipanggil Kiplek yang juga merupakan penggerak kegiatan ini.
     Saat ini, fenomena budaya konsumtif di masyarakat memang sangat parah. Tapi pelakunya tidak sadar dengan hal tersebut. Mereka merasa hanya mencukupi kebutuhan. Padahal antara kebutuhan dan keinginan itu merupakan dua hal yang berbeda. Kebutuhan adalah segala sesuatu (berbentuk barang dan jasa) yang diperlukan manusia untuk meneruskan hidup. Sedangkan, keinginan merupakan kebutuhan lebih di luar kebutuhan pokok manusia yang bersifat untuk memuaskan diri. Kiplek juga menuturkan bahwa sekarang semakin banyak orang yang kehilangan kesadaran, berlomba bermewah-mewahan dan tidak mau tahu bahwa sebenarnya lingkungan di sekitarnya masih banyak orang yang tidak bisa makan. Dari kenyataan tersebut, Kiplek bersama teman-temannya membuat gerakan peduli sosial sembari mengkritisi kondisi masyarakat kelas atas yang banyak memilih menutup mata.
     Lalu, darimana barang-barang dalam kegiatan ini didapatkan?
     “Dalam acara ini, kami memiliki beberapa macam bentuk kegiatan sosial, antara lain: Pasar Gratis, Food Not Bomb dan Perpustakaan Jalanan. Barang-barang kami dapatkan dari teman-teman yang berpartisipasi dalam acara ini, kepunyaan individu maupun kolektif. Kami juga bekerjasama dengan komunitas lain yang sama-sama memiliki kepedulian terhadap masyarakat, Perpustakaan Jalanan contohnya. Buku-buku ada untuk bisa dibaca masyarakat umum secara gratis ini atas kerjasama dengan mereka.”, ungkap Kiplek sambil menunjuk barang dan orang-orang seperjuangannya itu. “Pasar Gratis sendiri maksudnya adalah sebuah gerakan sederhana dimana kita bisa saling berbagi barang maupun jasa dengan orang-orang yang kurang beruntung secara gratis. Pasar Gratis ini atas dasar solidaritas, bukan mencari keuntungan. Karena kami sadar, tidak semua mempunyai uang untuk membeli berbagai kebutuhan hidup akibat kekayaan alam yang harusnya untuk kesejahteraan masyarakat, malah habis dikuasai oleh korporasi yang rakus.”. Kiplek menghela napas, kemudian menjelaskan lagi. “Sedangkan Food Not Bomb itu berarti makanan gratis. Istilah tersebut kami ambil dari slogan sekumpulan aktivis yang menentang perang dan proyek nuklir. Istilah ini berdasar pada pemikiran bahwa yang dibutuhkan manusia adalah kehidupan (food= makanan), bukan kematian (bomb= bom/senjata). Food Not Bomb bisa dilakukan siapa saja, dimana saja dan kapan saja oleh semua orang yang sadar bahwa makanan adalah hak semua manusia, bukan hak  istimewa untuk para elit saja.”.
     Menyangkut nama acara ini, apakah kegiatan ini hanya dilakukan pada bulan Ramadan saja?
     “Acara seperti ini sudah beberapa kali kami lakukan. Bukan hanya pada waktu bulan puasa saja. Sebelumnya di luar bulan puasa kami sudah mengadakan kegiatan seperti ini di beberapa tempat di daerah Lamongan dan sekitarnya. Ya seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Kegiatan seperti ini kami adakan dengan kerjasama bersama komunitas lain yang mempunyai kepedulian sosial, dengan dasar seduluran, gotong-royong dan solidaritas.”, jawab Kiplek. Kegiatan peduli sosial ini sudah beberapa kali Kiplek dan teman-temannya lakukan di tempat berbeda di daerah Lamongan dan sekitarnya. Kiplek menyebutkan beberapa tempat yang pernah dibuat pelaksanaan acara ini, antara lain Paciran dan Sidayu. Dia juga membuka dan mengajak secara terbuka siapapun yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini. Siapapun mereka bisa membantu dalam bentuk barang-barang, makanan, jasa, ide ataupun tenaga. Atau bisa juga membuat sendiri kegiatan seperti Pasar Gratis dan Food Not Bomb ini di daerah masing-masing.
     Dan di akhir perbincangan kami, Kiplek dan mewakili semua orang dalam gerakan ini berpesan, “Sekecil apapun hal positif yang kita lakukan, itu jauh lebih baik daripada tidak melakukan apapun. Percayalah! Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Mari kita bersama-sama melakukan langkah kecil menuju perubahan hidup yang nyata dan merata, untuk dunia yang lebih baik, dimana setiap orang saling peduli terhadap sesama dan saling berbagi kasih sayang.”.

Penulis : Abid Muhibbudin (Tim Media dan Desain Grafis)











Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:
KANTIN DENGAN SEGALA MACAM TAHU TELOR


Kantin merupakan suatu tempat dimana orang-orang dapat bercengkrama, bertukar pikiran, berkeluh kesah, makan ringan hingga makan mubang. Dalam suatu waktu orang dapat mempergunakan waktunya ditempat ini dalam waktu yang cukup lama bahkan bisa sampai seharian. Tempat ini juga merupakan tempat pelarian siswa yang hendak bolos pelajaran bahkan UKS bukan lagi menjadi prioritas untuk jadi bahan pelarian. Begitu juga dengan rumah karena tidak tahu mengapa mie instan yang beli di kantin rasanya jauh lebih enak daripada rebus mie sendiri dirumah. Hal semacam itu masih menjadi sebuah misteri.
Kantin dengan segala kerinduannya memiliki kenangan yang cukup membuat otak ini susah untuk melupakannya. Tidak hanya karena tempatnya yang strategis dalam sebuah pelarian akan gtetapi juga memiliki keanekaragaman suku, ras dan budaya pada jenis makanan yang dijual. Itulah penyebab dari nafsu manusia yang susah dikendalikan sehingga dengan kapasitas perutnya yang hanya cukup dengan 3 porsi makanan manusia lebih condong untuk membeli semua jenis makanan yang ada di tempat ini. Tentunya sifat rakus ini sangat tidak terpuji meskipun tempat dijualnya makanan tidak selalu merupakan tempat yang terpuji.
Berbagai macam jenis kantin terdapat banyak sekali kualitas dari suatu penilaian manusia. Pastinya dari segi keindahan, kerindangan, keamanan, kesehatan, kenangan dan yang paling penting adalah kebersihan. Kebersihan merupakan pokok dari semua unsur yang harus ada di setiap tempat ini. Contohnya pada kantin FMIPA Universitas Negeri Malang pada kasus bumbu tahu telor yang membanjiri di sudut kantin. Tidak kah ada rasa peduli terhadap lingkungan dengan tidak meninggalkan ataupun sengaja menumpahi bumbu yang sangat enak tersebut dengan berbagai rasa yang ada yaitu ada rasa manis, asin bahkan hambar. Apapun rasanya pada dasarnya tetap namanya bumbu tahu telor. Hal ini sangat disayangkan karena dapat berdampak pada pengunjung yang lainnya meskipun pengunjung yang lainnya tidak membeli tahu telor.
Dari tulisan diatas dapat disimpulkan bahwa kebersihan sebuah tempat makan khususnya pada kantin mempengaruhi kualitas makanan dan kuantitas pengunjung meskipun hanya berupa bumbu tahu telor yang rasanya tidak diragukan lagi. Semua itu tergantung pada mahluk hidup terutama manusia karena tidak mungkin lingkungan kotor diakibatkan oleh benda mati meskipun itu hanya berupa bumbu tahu telor. Semua bisa karena terbiasa. Namun yang terbiasa belum tentu bisa membuat bahagia. Semua yang baik belum tentu rela meninggalkan tetapi yang meninggalkan (sampah) pasti suasana hatinya sedang tidak baik. Apapun itu jangan lupa untuk selalu berusaha memperbaiki diri. Karena kita tidak tahu jodoh atau ajal yang akan membujuk kita untuk menjadi bagian dari salah satu diantara keduanya.



Penulis: Firaz Apriyanto (Tim Kesejahteraan Anggota) https://www.instagram.com/firaz.apr











Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:


GAIA ATAUKAH ADEFAGIA ?


Banyak orang mengatakan bahwa kita makhluk yang sempurna dimuka bumi, makhluk yang berakal dan dipercaya bisa mengatur serta menata dunia ini menjadi lebih baik. Kenyataannya bahwa kita makhluk yang berperan penting dalam menghasilkan limbah yang mampu merusak ekosistem. Masih relevankah predikat tersebut melekat dengan kita ?
Pernah ditemukan bangkai paus terapung serta beberapa biota laut yang ‘tersakiti’ dalam hidupnya karena polimer sintetik tersebut. Negara kitapun menjadi runner up akan kemalangan yang sedang terjadi itu. Kesan seolah olah negara paru paru dunia serta terkenal akan keanekaragaman ini mulai tercoreng tanpa adanya kepedulian akan lingkungan sekitar. Seolah olah manusia tidak memiliki tanggungjawab akan menjaga lingkungan, terdapat juga ungkapan ungkapan menarik di dalam masyarakat.
“lho itu kan tugasnya pegawai kebersihan, kalau dia tidak kerja berarti dia makan gaji buta dong ?” beberapa ungkapan di sosial media. Masih banyak orang memandang bahwa kebersihan sebatas pekerjaan  ini itu. Tidak memandangnya sebuah lingkungan terlihat menarik jika terdapat kebersihan dan keindahan didalamnya.
“aku lho cuma buang sampah sekecil itu” salah satu ungkapan klasik kata orang. Kenyataannya ada pepatah ‘sedikit dikit menjadi bukit’. Banyak orang berpikir bahwa kontribusi kecil seperti itu tidak memiliki dampak, tapi kenyataannya jika itu dilakukan banyak orang maka memiliki pengaruh sangat besar.
“tidak tahu mas, biasa orang orang juga buang disitu” beberapa jawaban yang didapat ketika bertanya alasan kenapa buang sampah pada tempat yang kurang ‘tepat’. Terdapat penjelasan mengenai hal ini yang disebut konformitas. Singkat ceritanya bahwa kita melakukan sesuatu karena mayoritas melakukan hal tersebut maka tindakan itu dianggap menjadi benar.  
Mengakhiri celotehan ini bahwa apa yang kita lakukan sekecil apapun terhadap lingkungan akan berdampak di kemudian hari dan tingkah laku kita tanpa sadar mungkin akan di ikuti orang lain. Maka dari itu marilah kita berpikir sejenak, Kalau tidak dimulai dari kita sendiri, dari siapa lagi ?


Penulis : Rival Maulana Faturahman (Tim Kesejahteraan Anggota)











Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:


MELODI SAPE DI TANAH JAWA, SUKU DAYAK PUNYA



Pemuda murah senyum, Gabriel Drannoktah seorang seniman muda yang mengenalkan merdunya melodi sape di tanah Jawa. Dia merupakan pemuda berasal dari Bengkayang, Kalimantan Barat yang kini menempuh kuliah di salah satu kampus di salah satu kota di Jawa Timur yang disebut sebagai kota Pendidikan, Kota Malang.
Berdasarkan film dokumenter “SAPE PLAYER GABRIEL FILOSOSFI BORNEO BAND” oleh Sedap Production yang diunggah di Youtube DRANNOKTAH PRODUCTION pada 25 Juli 2018, pemuda yang biasa dipanggil Grab ini mengaku, tertarik dengan alat musik sape karena mencintai budaya dimana ia dilahirkan dan dibesarkan, Suku Dayak Kayaan Pulau Kalimantan. Dia pun bangga akan kayanya budaya nusantara.
Tentu belum banyak yang tahu bahwa alat musik tradisional ini, khususnya masyarakat yang berada di luar Pulau Kalimantan. Banyak yang berpikir bahwa alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik tersebut adalah kecapi bahkan sasando. Inilah mengapa Gabriel berani mengenalkan merdunya sape di tanah rantauannya. Gabriel mempelajari dan mencoba sape secara otodidak, cukup sulit baginya karna ia belajar secara mandiri melalui beberapa video di youtube serta video para seniman sape ketika perform.
Butuh proses dalam mempelajari dan mengasah kemampuannya dalam memainkan sape, hingga kini ia menjadi seorang seniman muda yang cukup terkenal dan sering diundang dalam beberapa event di beberapa wilayah kota Malang bahkan luar Pulau Jawa.
Tidak hanya bermain solo, kini Grab telah memiliki band bernama FILOSOFI BORNEO yang bergenre pop ethnic modern dimana menyatukan musik tradisional dengan musik modern genre pop, tidak hanya berkarya namun juga melestarikan budaya.
Secara solo Gabriel sering mengenalkan alat musik khas Kalimantan tersebut pada area yang ramai, seperti di salah satu sudut jalan besar Ijen Malang ketika car free day, serta pada pusat perbelanjaan di area Kota Malang khususnya pada area parkiran karena menurutnya disitulah tempat yang cocok baginya untuk memainkan sape karena banyak orang yang berlalu lalang.
Beberapa dari mereka menghentikan langkahnya untuk sekedar mendengarkan Gabriel memainkan Sape, melihat dari dekat alat musik tradisional Kalimantan dengan ciri khasnya yaitu terbuat dari kayu dan terdapat ukiran, bahkan mengambil gambar dan video Gabriel ketika melantunkan melodi sape yang merdu.

“Marilah kita mencintai budaya kita, dan ayo main alat musik tradisional”- Gabriel Drannoktah



Penulis: Dera Putri Rahmadarti (Tim Media dan Desain Grafis) https://www.instagram.com/d.putr











Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:


PENDIDIKAN KARAKTER ANAK


Jika berbicara tentang pendidikan karakter anak. Hal yang paling dekat adalah pendidikan dilingkungan Rumah. Hal yang paling umum adalah orang tua menjadi teladan bagi anak. Namun di era saat ini ada orang tua dan anak jarang sekali bertemu dengan orang tua. Misalnya pada pagi hari sebelum anak bangun orang tua sudah bekerja dan anak dari mulai pagi sekolah sedangkan untuk siang hari anak bermain dengan temannya dan pada malam hari istrirahan pada saat orang tua pulang dari bekerja hal ini yang kemudian relasi antara orang tua dan anak berkurang. Beda lagi ceritanya dengan kondisi dari anak Seorang TKI atau TKW yang pada umumnya sang anak akan tinggal bersama dengan kerabat dari orang tuanya atau neneknya. Dengan kondisi demikian padahal orang tua memiliki peran penting dalam proses perkembangan karakter anak karena biasanya anak cenderung meniruan dan mengetahui hal baik dari orang tuanya . namun jika hal ini tidak terpenuhi si anak akan cenderung menirukan hal apapun yang mungkin ada disekitar mereka.
Hal ini yang kemudian menjadi bentuk kekhawatiran apalagi jika sang anak sudah menginjak sekolah dasar. Tantangan dan peran orang tua semakin ekstra karena semakin luasnya kendisi lingkungan sekolah mekipun pada dasarnya juga memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter. Namun untuk peran disekolah lebih banyak kepada pendidikan formal seperti misalnya Matematika, IPA IPS dan lain lain. Sedangkan untuk masalah pendidikan karakter masih minim apalagi untuk kegiatan disekolah untuk pendidikan dasar sekitar 5 – 6 jam setiap harinya untuk kurikulum 2013. Salah satu contoh di SD Negeri Perdana 2 Sukaresmi Pandeglang Banten tahun pelajaran 2018/2019. Selebihnya kegiatan sehari hari anak biasanya dihabiskan bersama teman bermain. Namun seiring dengan berkembang zaman. banyak sekali perubahan apalagi di zaman yang serba gedged. Banyak sekali para orang tua yang memberikan anaknya sebuah gedged dengan berbagai alasan salahsatunya untuk mempermudah komunikasi namun karena kurangnya pengawasan dari orang tua anak anak kemudian cenderung lebih suka menghabiskan waktunya dengan gedged. Hal ini yang ditakutkan jika penggunakan gedged tersebut dapat memberi dampak buruk bagi sang anak misalnya konten yang diakses bersifat negatif dengan demikian jika tidak adanya pengawasan dari orang dapat berakibat fatal pada proses perkembangan pola pikir anak. selain itu dengan adanya perkembangan teknoogi peranan gedged juga memberikan layanan akses tawaran berupa game. Meskipun hanya berupa game hal tersebut juga perlu adanya pemantauan ataupun batasan karena jika dibiarkan akan berakibat misalnya mnghabiskan semua waktu luang dengan game atau bahkan waktu istirah hal ini yang kemudian mengganggu konsentrasi anak proses belajar karena anak tidak akan fokus sepenuhnya pada saat proses belajar entah disekolah ataupun dirumah hal tersebut bisa jadi dipicu karena banyangan tentang game tersebut atau karena kelelahan akibat waktu istirahat yang berkurang.
Jadi hal tersebut yang perlu digaris bawahi oleh para orang tua tentang kondisi perkembangan anak. meskipun hal tersebut menjadi kendala karena kesibukan orang tua karena harus bekerja. Terlebih lagi jika seorang ayah dan ibunya sama- sama bekerja.

Penulis : Mannawatun Toyyibah (Tim Media dan Desain Grafis)







Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:
BELAJAR RASA BERMAIN SAAT PUASA RAMADHAN


Mengisi waktu luang anak-anak di bulan Ramadhan dengan kegiatan yang menarik tetapi bermanfaat adalah tujuan dari kegiatan rutin tahunan yang diadakan di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono, Malang ini. Sancil adalah sebutan yang sering dipakai untuk menyebut kegiatan tersebut. Sancil merupakan akronim dari kata Santri Kecil. Karena kegiatan ini dilaksanakan di sebuah pesantren dan seperti yang telah diketahui bahwa anak yang belajar di sebuah pesantren disebut santri, maka kegiatan ini diberi nama Sancil (Santri Kecil).
Sancil ini dilaksanakan sejak tahun 2014 di Bulan Ramadhan, jadi kegiatan Sancil adalah kegiatan rutin di Bulan Ramadhan. Awal mula dibentuknya kegiatan ini adalah karena permintaan beberapa rekan yang mengeluhkan kegiatan anak-anaknya saat Puasa Ramadhan yang berbarengan dengan libur sekolah. Karena adanya beberapa permintaaan inilah, didesain sebuah kegiatan belajar yang dikemas seperti permainan tetapi tetap memberikan pesan yang penting dan pastinya tidak melelahkan dilakukan saat puasa.
Pada tahun 2019 ini kegiatan Sancil kembali dilakasanakan, tepatnya pada tanggal 26 sampai 29 Mei 2019. Namun, karena saat tanggal pelaksanaan sancil kegiatan sekolah belum libur, peserta sancil tahun ini mengalami penurunan. Tetapi kegiatan tetap terus terlaksana dengan baik dan lancar, dengan semangat dari adik-adik peserta dan panitia kegiatan Sancil 2019 berjalan dengan cukup meriah.
Peserta yang mengikuti kegiatan sancil ini dari beragam usia mulai dari 5 hingga 12 tahun. Dengan perbedaan usia ini, kelas pembelajaran dibagi menjadi dua kelompok. Dengan jadwal kegiatan yang padat mulai dari pukul 13.00 (Pulang sekolah) hingga 17.00 WIB, puasa adek-adek sancil menjadi tidak terasa, tetapi tetap terlaksana.
Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain adalah praktek wudhu, sholat berjamaah, dan membaca wirid. Ditengah-tengah kegiatan akan diberikan beberapa permaianan yang bersifat mendidik, mengajarkan sebuah rasa tanggung jawab, kebersamaan, gotong royong, maupun kemandirian.



Setiap di akhir kegiatan, beberapa adik-adik akan ditanyai mengenai pelajaran apa saja yang didapat di hari tersebut, sehingga setiap santri akan dapat memahami pelajaran-pelajaran yang telah disampaikan. Harapan dari kegiatan ini, pelajaran yang telah diajarkan akan dapat terus dilaksanakan oleh adik-adik saat sudah kembali ke rumah maupun sekolah masing-masing.
Setiap hari saat pelaksanaan sancil, adik-adik dianjurkan untuk membawa uang untuk beramal yang dimasukkan dalam celengan yang telah dibuat di hari pertama. Saat hari terakhir kegiatan sancil, uang amal yang telah terkumpul akan dibelikan bahan- bahan untuk membuat parcel yang akan dirangkai oleh adik-adik sancil dan diberikan kepada teman-teman yatim. Dengan cara ini, secara tidak langsung adik-adik telah diajarkan cara untuk berbagi terhadap teman yang membutuhkan.
Usia anak-anak adalah usia yang sangat baik untuk memberikan pelajaran- pelajaran kehidupan. Tidak harus dengan suebuah kata-kata dan perintah untuk memberikan pelajaran, dengan permainan pemahaman akan suatu pelajaran juga dapat dilakukan. Lebih menyenangkan dan terkesan bagi anak-anak itulah yang diharapkan.




Penulis: Rosy Fadilatul Ilmi (Tim Media dan Desain Grafis) https://www.instagram.com/rosylmi











Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:


TEMA : BUDAYA

MEDIA SOSIAL ADALAH RACUN
Siapa diantara kalian sekarang yang tidak kenal dengan media sosial diantaranya instagram , facebook dan twitter. Bahkan saya berani bertaruh jika hampir 99,99 % kalian telah akrab dengan media sosial utamanya instagram dan dapat dipastikan setiap setik atau menit mata kalian tidak bisa lepas dari yang namanya instagram. Lantas mengapa perilaku tersebut bisa hadir dalam kehidupan kalian?
Instagram saat ini telah menjadi aplikasi wajib yang harus gadget kalian miliki , instagram booming pada tahun 2012 diciptakan oleh Kevin Systrom dan rekannya Mike. Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri. Instagram kini ibaratnya racun yang telah merasuk kedalam tubuh dan menyebar kepada sel sel yang ada dalam tubuh kalian. Kenapa saya bilang seperti ini? karena ini dalah fakta yang tidak dapat dipungkiri lagi dengan 1 milyar pengguna, hal dapat dipastikan hampir seluruh gadget di dunia telah terinstall aplikasi tersebut. Memang sekarang sudah memasuki jaman modern yaitu internet gegan begitu informasi apapun sangat mudah diperoleh tanpa harus bersusah payah mencarinya , hanya dengan mengetikkan kata kunci pada halaman pencarian kita sudah mendapatkan apa yang kita cari dan itu tidak membutuhkan waktu yang lama dengan syarat gadget kita sudah belikan kuota data internet tanpa adanya koneksi internet kita tidak dapat membuka media sosial, maka otomatis kita harus membeli kuota internet dengan megeluarkan sejumlah uang. Contoh kecilnya untuk kuota 1gb dijual dengan harga Rp. 9.000. Bagi mereka yang sudah bekerja dan menghasilkan pemasukan sendiri ini bukanlah perkara yang sulit lantas bagaimana dengan mereka yang berstatus pelajar?
Ini menimbulkan masalah baru mereka yang berstatus pelajar mau tidak mau harus meminta uang lebih untuk membeli kuota internet agar bisa berjejaring sosial media, bagi mereka yang mempunyai orangtua dengan tingkat ekonomi yang berkecukupan adalah sesuatu hal biasa dan tidak memberatkan lalu bagaimana dengan nasib keluarga dengan penghasilan pas pas an ini menjadi problematika, terkadang buat makan aja masih kurang ini lagi dibebani dengan permintaan tambahan uang saku untuk membeli kuota internet yang kita tau sendiri itu tidaklah murah.
Ada anak yang mengerti kondisi ekonomi orangtua jadi mereka berusaha untuk menyisakan uang saku mereka untuk ditabung dan nanti jika sudah terkumpul akan digunakan untuk membeli kuota. Media sosial memiliki damak positif dan negatif, tapi kebanyakan memiliki dampak negatif berupa kecanduan terhadap dunia maya, seoalah olah dunia maya adalah segalanya secara tidak langsung kita sudah menjadi pecandu yang tidak bisa terlepas darinya. Bayangkan segala bentuk media informasi gambar dan video terpampang dengan bebasnya, lantas bagaimana jika ada video dan gambar yang berbau pornografi sangat mudah diakses bagi mereka kalangan anak anak yang notabennya belum cukup umur menonton hal hal semacam itu. Peran orangtua disini sangat diperlukan dalam memberikan perhatian lebih terhadap anaknya, namun kita tahu kebanyakan orangtua sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya berangkat pagi lalu pulang sore hari istirahat kemudian tidur. Jarang sekali orangtua berbincang langsung kepada anak anaknya kecuali dalam keadaan yang memang diperlukan saja.
Masalahnya jika seseorang telah kecanduan bermedia sosial maka banyak sekali waktu yang terbuang sia sia hanya untuk sekedar scroll up, scroll down, dan posting foto. Ingin memiliki pengikut yang banyak rasanya senang sekali jika foto kita banyak yang memberi like atau suka. Lantas apa sih tujuan kalian bermedia sosial semacam itu bukankah itu adalah hal yang maya? Bayangkan berapa waktu kita yang terbuang sia sia hanya untuk hidup didunia maya, tugas sekolah jadi banyak yang terlambat dikerjakan, belum lagi mata kita bisa terkena radiasi layar gadget jka terlalu lama menatapnya. Banyak sekali kerugian yang kita dapat jka tidak bijak dalam bermedia sosial, membuat kita menjadi orang yang pasif karena lebih mementingan gadget daripada oranglain di sekitar kita. Misalnya saat kita tengah berkumpul bersama kebanyakan orang orang akan lebih memberikan fokus dan perhatiannya terhadap gadget daripada membuka perbincangan dengan orang yang ada di sampingnya, gadget membuat yang jauh menjadi dekat dan membuat yang dekat menjadi jauh. Kita menjadi manusia yang individualis yaitu lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan bersama menjadikan kita manusia yang acuh dan mudah menyalahkan orang lain, secara tidak langsung kita telah diracuni oleh media sosial hanya saja kita tidak menyadarinya. Banyak hal hal negatif yang kita konsumsi di media sosial misalnya sesuatu yang berbau pornografi, kata kata kasar, bahkan ujaran kebencian dapat kita temukan disini karena informasi apapun dengan sangat mudah menyebar jika kita tidak hati hati itu semua bisa menjadi bom bunuh diri untuk diri kita sendiri nantinya bahkan masa depan kita menjadi hancur.
Media sosial bisa membuat perilaku seseorang menjadi menyimpang mengubah karakter seseorang yang awalnya tidak suka dengan hal hal kasar sekarang menjadi seseorang yang mudah marah dan melontarkan kata kata kasar. Banyak sekali contoh masalah yang telah terjadi belakangan ini misalnya seorang murid yang berani memukul gurunya, bisa jadi akibat terlalu seringnya kita menonton video tentang kekerasan, perkelahian yang secara tidak langsung itu telah meracuni pikiran kita seolahnya kita bangga telah melakukan perbuatan tersebut tanpa kita sadari sebenarnya itu adalah perbuatan salah namun kita tetap melakukannya agar kita dicap sebagai seseorang yang pemberani dll.
Bermain sosial media itu tidak salah jika kita tau batasnya dan bijak dalam melakukanya, masih ada hal hal positif yang bisa dapatkan dari sosial media seperti tempat mencari informasi perlombaan, hiburan, mencari uang dengan cara berjualan online dll. Bersikap bijak dalam bersosial media tidaklah hal yang mudah namun tidak berarti hal tersebut mustahil untuk dilakukan semua membutuhkan proses dan pembiasaan. Dengan cara yang bisa diterapkan adalah membatasi peggunaan gadget dalam sehari, mencari kegiatan lain yang lebih bermanfaat seperti olahraga, memasak, mendaki mungkin, yaitu kegiatan yang dapat menghindarkan kita dari gadget secara langsung dengan adanya kegiatan kegitan baru yang lebih bermanfaat itu bisa mengurangi kecanduan kita terhadap media sosial dan mulai berpikir secara jernih serta menyadari terlalu tenggelam dalam dunia maya utamanya instagram adalah hal yang sia sia jika hal tersebut tidak menimbulkan dampak positif dalam kehidupan kita. Sehingga berlakulah bijak dalam bersosial media karena masa depan bisa menjadi taruhannya.

FOTO KETIKA LEBIH ASIK DENGAN GADGET MASING MASING





Penulis : Anggi Bahtiar (Tim Sociopreneur)










Follow dan subscribe akun media sosial GPAN Malang sebagai berikut:
Previous PostPostingan Lama Beranda